Bertanya Insyirah:

Mama, REDHA itu apa?

Aku (bersungguh dan serius):

REDHA itu terima, samada sukarela maupun paksa. Biar tersembul urat kepala, biar banjir air mata, biar berkecai jiwa dan raga, terima! Maka “terima” itu, REDHA.

Aku senyum melihat Insyirah angguk-angguk kepala, bangga kerana cepat dia menangkap maksudku.

Insyirah:

Mama, mama kena REDHA. Meski tersembul urat kepala mama, walau banjir Valladolid kerna air mata mama, meski berkecai jiwa raga mama, mama kena REDHA.

Tiba-tiba jantungku berdebar. 

Insyirah:

Mama, kakak, ….. kakak telah terDELETE satu folder mama. Kakak minta ampun tapi mama kena REDHA!

Aku:

Hah??? Folder mana satu??

Insyirah:

Folder “Pihejdi”!

Tersembur tart nanas dari mulut Anita Serawakku, bertaburan di alfombra biru. Tubuh tiba2 lesu, terkulai kaku. Urat kepala tersembul seperti banir pepohon kayu. Air mata pula tak terkeluar kerna konon-kononnya kontrol ayu, jiwa, raga, bakul, retak dan rekah seribu.

Oh, mempraktis REDHA itu tidak semudah mensyarahkannya, uwaaaaaaaaaaaaaa….

Bayangkan jika tiba-tiba suatu hari, Allah mengdeletekan matahari dari alam ini, maka bulan pun tidak akan bercahaya. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *